Percikan Hujan.. Kerlipan Cahaya..

Archive for August 2012


Kita manusia. Kita hidup bersama banyak manusia. Berinteraksi, saling berbagi isi. Walau tidak semua isi benar-benar isi di dalam hati. Berapa pun banyaknya manusia di sekeliling seorang manusia, sang manusia tidak pernah bisa memastikan manusia lainnya memiliki isi yang sama.

Seseorang yang kita sangat nyaman bersamanya dalam suatu masa, bisa menjadi sangat tak acuh di masa yang lain. Seseorang yang kita sayangi dalam suatu masa, bisa menjadi musuh di balik layar di masa yang lain. Seseorang yang karena kepergiannya bisa membuat air mata tertumpah dalam suatu masa, bisa jadi kedatangannya menjadi amarah di masa yang lain. Seseorang yang kita saling percaya dengannya dalam satu masa, bisa menjadi penyebar fitnah akan kita di masa yang lain.

Manusia tidak pernah mudah untuk ditebak. Apalagi diharapkan banyak.

Saya pernah dalam suatu masa sering berharap pada manusia. Berharap dijadikan teman baik, berharap dimengerti, berharap dibalas, berharap dilegakan dengan hasil optimal, berharap diberikan teladan, juga berharap bisa memiliki isi yang sama, rasa yang sama, pikiran yang sama.

Lalu saya kecewa.. Karena apa yang saya cari? Pemenuhan keinginan. Cih..fana.

Seharusnya saya sadar sejak awal bahwa kita tidak pernah bisa memastikan sesuatu pada manusia. Kita hanya bisa mengusahakannya, mencoba sebaik mungkin apa yang kita bisa. Didengarkan atau tidak dihiraukan, berhasil atau gagal, diterima atau ditolak, dibalas atau dilupakan. Bukan wewenang kita memastikan ini pada manusia. Dan memang bukan ini yang seharusnya saya cari.

Harusnya saya sadar sejak awal..

…dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”

(QS. 94:8)

Bukan padanya..padaNya.

Maka kini saya bertekad tuk berhenti berharap..padanya.

 

Advertisements

“Kamu tidak kenal saya”

Ini mungkin salah satu kalimat yang cukup sering ada, baik di kehidupan nyata, film, sinetron, apalagi telenovela. Tidak persis begini mungkin, tapi dengan konten yang serupa.

Menurut saya, memang tidak mungkin ada manusia yang mengerti manusia lain seutuhnya, termasuk diri itu sendiri. Seorang ibu sekalipun, tidak akan mengerti sepenuhnya mengenai anaknya. Sebagian besar mungkin, tapi tidak sepenuhnya. Karena pada hakikatnya kita memiliki banyak sisi dengan keterbatasan pandangan yang hanya beberapa sisi. Orang lain melihat kita dari sikap dan pembawaan kita dari luar, sedangkan pribadi hanya melihat diri dari apa yang dia lihat dari dalam.

Mata, organ penglihatan kita bahkan tidak bisa melihat alis, sesuatu yang paling dekat dengannya sendiri. Dan untuk melihat bagian tubuh belakang kita, kita bahkan butuh beberapa cermin sekaligus. Itulah mengapa menilai diri memang tidak bisa hanya dari satu sudut pandang. Kita butuh orang lain sebagai cermin kita, membantu melihat apa yang tidak bisa dilihat dari dalam. Jadi, bukan salah orang lain jika mereka menilai kita tidak seperi kita menilai diri kita. Ambil saja hikmahnya.. Toh jati diri ini bukan dari bagaimana kita dilihat sekarang, tapi bagaimana kita memperbaiki diri sekarang. ^^

Sudut pandang diri dari dalam juga belum berarti bahwa diri dapat menilai hati dengan seutuhnya dan sebenar-benarnya. Karena kasus berkata bahwa orang-orang munafik tidak menyadari dirinya munafik, orang-orang kafir merasa dirinya paling suci, dan sebagainya. Lalu bagaimana kita bisa memperbaiki diri jika bahkan kita belum mengenal diri dan belum mengetahui apa yang harus diperbaiki?

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya” (QS. 50:16)

Allah Yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui diri kita setuhnya dan sebenar-benarnya.. Luar dan dalam.

Mendekat pada Allah, insyaAllah kita akan diperjalankan dengan hati dalam tuntunan Allah. Seperti alarm, hati akan memberi tanda saat ia mulai mencondongkan diri menjauhi keimanan, meski barang sedikit.. ^_^

Wallahu ‘alam..


Dari sekian banyaknya kemudahan yang Allah berikan..

Orang tua yang mengasihi

Rumah yang layak ditinggali

Pendidikan yang masih dapat dijamin

Kesehatan fisik dan mental tanpa disability

Dan akses transportasi yang tinggal dijamahi

Dari sekian banyaknya kenikmatan yang Allah anugerahkan..

Kitabullah yang dirisalahkan sampai saat ini

Penjagaan sejak dini dari hidung belang yang tak tau diri

Kejauhan dari mereka yang lupa akan mati

Kesadaran hidup untuk mencari yang lebih abadi..

Seberapa banyak yang sudah disyukuri dengan tanpa penolakan dalam diri?

Tanpa keluhan, tanpa kemalasan, tanpa penundaan?

Seberapa banyak?

Lalu seberapa sedikit mereka membuat melambung takabur tidak melihat bawah kemudian terlupa dengan alam kubur?

Apa Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar, dan Laa ilaaha ilallah hanya cukup di lidah?

Sampai ke telinga lantas lupa akan langkah diri dalam ibadah?

Menyucikan Allah tapi mengotori diri dan berlagak sok suci?

Memuji Allah tapi masih berharap dipuji?

Membesarkan Allah tapi takabur berkembang dalam diri?

Lalu mengaku Allah satu-satunya illah tapi masih melayani hawa nafsu yang terus menggerogoti?

Apa lantas kemudahan dibiarkan melalaikan dan kenikmatan menjadikan takabur sebagai kawan?

Astaghfirullah..

Hidup ini butuh resolusi, tidak hanya teori tanpa aksi

Islam ini tidak butuh orang yang terus berkutat dalam diri tanpa ada perubahan pasti

Karena dunia menunggu keselamatan yang hakiki dengan hanya Allah satu-satunya yang diabdi

Dalam Ramadhan ini jiwa berteriak memecah sunyi,

“Aku lelah hidup begini!”


Kita

Mungkin memang begitu kawan,

Semua orang punya kenangan, tapi semua orang punya pencapaian

Tidak masalah fase hidup terus begulir, kita tidak akan selamanya di titik yang sama

Bersama merasakan hari yang sama, dalam tempat yang sama..

Mungkin memang begitu kawan,

Rasa ini semu

Seperti angin yang berderu lalu berlalu

Tapi bukan ini yang membuat kita melaju.

Hanya bagaimana kita mengemas hikmah dan membawanya untuk satu tuju

Mungkin memang begitu kawan,

Tidak perlu bertanya tidak perlu kecewa

Apalagi tenggelam dalam sesuatu yang telah lama

Cukup sadari cukup dalami

Fase telah berlalu, hidup telah menunggu

Tapi selalu ada kenangan, selalu dalam ingatan…

Selamat menjalani hidup kawan,

Aku, kamu, dan mereka tidak lagi dalam tempat yang sama

Kita kembali dalam kehidupan yang penuh irama

Semoga keberadaan kita tidak hanya menjadi kenangan

Tapi pelajaran yang memberi arti dan mengingatkan akan Tuhan

Semoga Allah menghendaki rahmat dan peringatan menuju keselamatan

Dalam hati-hati kita yang tidak lagi berpegangan..aamiin

Terima kasih kawan,

Atas warna, atas ceria, atas cerita

Dalam lembar hidup yang tidak pernah kehabisan kata

Saat aku, kamu, dan mereka dalam kata kita

KKNM sudah selesai, 32 hari bersama telah berlalu.. Semua kembali ke kesibukan masing-masing. Memang, masa lalu tidak akan berulang, hari kemarin tidak akan pernah sama dengan hari ini ^_^.

Semoga relasi kita bisa langgeng yaaa..huehehe =D


Tidak semua orang sadar bahwa hidup itu harus dibawa, bukan mengikuti arah arus membawa

Tidak semua orang sadar bahwa semua itu ada pertanggungjawabannya, tidak bisa asal jalan

Tidak semua orang sadar bahwa ikhtiar seoptimal mungkin itu keharusan, bukan ‘tawakal’ di awal rencana

Tidak semua orang sadar bahwa masa muda itu masa pembentukan, bukan sekadar masa-masa guyonan

Dan..

Saya sadar bahwa manusia itu punya warna, yang dicelup dari tinta yang berbeda-beda. Tapi satu yang paling indah dan meresap sempurna, celupan Allah. Kalau tidak indah dan tidak kuat meresap, jangan-jangan cuma mengaku celupan Allah?

Saya sadar bahwa manusia itu makhluk yang harus diwaspadai. Ada banyak mata, banyak telinga, banyak hati, tapi belum tentu semua berfungsi sesuai fitrah.

Saya sadar bahwa masih luas bumi Allah yang menunggu cahaya Allah benar-benar menyinari.

Saya sadar bahwa Allah selalu adil. Selalu ada pertimbangan, selalu selaras, dan tidak asal beri. SkenarioNya tidak akan pernah sia-sia tanpa maksud dan perhitungan. Semua pasti presisi sesuai kadar masing-masing, dia yang sering kita sebut takdir.

Saya sadar bahwa keinginan untuk berubah jauuuuh lebih berharga dibanding kemampuan ilmu yang membuat kita sombong tanpa sadar

Saya sadar dan saya harus bergerak dengan kesadaran ini


Dari interaksi pria-wanita dalam rumah yang sama selama 32 hari, saya yakin seyakin-yakinnya sungguh ini banyak banget ranjaunya. Banyak parah… setidaknya untuk saya. Pikiran, jasamani, ruhani..teranjaui. Entah temen-temen saya yang lain melihat ini atau ga. Atau malah sudah pada terjerat ranjau?

Dari interaksi dengan anak-anak perempuan berumur kisaran 9-11 tahun di sini, saya lihat kengerian jaman. Dari pikiran mereka, obrolan mereka, hobi mereka, doktrin dalam pikiran mereka. Saya prihatin. Di sini banyak yang dari SD pikirannya udah lawan jenis, senengnya nonton sinetron remaja puber, dan parahnya niru tarian jaman sekarang yang ampun banget pisan.

Dua interaksi ini membuat saya merinding ngeri dan berkesimpulan lalu berteriak di dalam hati. Hei! Saya wanita muslim yang sungguh tidak akan murah!

Lalu saya merenung dan tetap mengusung kesimpulan yang selalu sama untuk setiap warna sistem saat ini bahwa tidak ada yang lebih menentramkan selain sistem Islam. Kebobrokan pendidikan anak-anak perempuan tadi, atau interaksi bebas antar lawan jenis saat ini, dua-duanya sama-sama karena kebobrokan sistem. Tidak percaya? =)


*Ini kicauan-kicauan saya yang saya buat saat dan setelah (tapi menyangkut) KKNM di Desa Bantarpanjang, Sukabumi Selatan ^_^. Saya beri nomer, karena gatau mau dikasih judul apa

Saya melihat, saya belajar..

Manusia punya dua potensi dalam dirinya, fujur dan taqwa. Tinggal mana yang paling dominan, dia yang tampil. Dan seringkali dua potensi itu bermunculan bergantian bergantung arah gelombang ruhiyah dibawa lari. Tapi jati diri bukan masalah mood ga mood untuk jadi baik, ini masalah akar apa yang menancap dalam qolbu. Allah atau yang lain? Jika ada yang lain, maka jelas tidak ada Allah di situ. Jelas. Tidak di tengah-tengah.

Oke, tadi saya bergumam sendiri..

Dari berkumpulnya saya selama sebulan bersama 17 orang yang Allah takdirkan menjadi partner kerja saya, saya menilai, lalu saya belajar dari mereka, manusia. First impression tidak selalu benar, walau mungkin memang cukup menentukan imaging selanjutnya. Ada yang awalnya membuat saya insecure, eh malah nyambung. Sebaliknya, ada yang saya pikir akan sangat nyambung, eh malah buat saya semakin jaga jarak.

Semua orang punya karakter, semua orang punya cerita di balik hidupnya. Menilai memang sangat mudah, tapi setelah itu apa? Tidak ada yang bisa diubah jauh lebih mudah dibanding terlebih dahulu merubah diri. Maka saya ambil itu. Dari mereka saya belajar, kalau saya harus belajar bisa begini, tapi jangan sampai seperti ini, apalagi seperti itu, lebih-lebih seperti yang di sana. Ini, itu, yang disana.

Banyak percontohan. Banyak hikmah.. Alhamdulillah ^_^

 


Kalender Hijriyah

Diri Saya

Kalenderku..

August 2012
M T W T F S S
« Jun   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

My post’s genre

Klik tertinggi

  • None

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 380 other followers

Me

Ini blog hasil curcolan seorang muslim mahasiswi kedokteran..

Orang2 yang nengok

  • 5,453 hits
Advertisements